Hama dan penyakit tanaman karet dan Pengendaliannya pada Pembibitan Terpadu

Sesuai dengan article sebelumnya yang talitashare.com bagikan kepada sahabat semua yaitu tentang Teknik Produksi Tanaman Karet dari Persiapan sampai pembibitan Maka, Pemeliharaan pada tanaman karet sangat perlu dilakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Tahu kah kalian? Salah satu kegagalan petani dalam proses budidaya tanaman kaaret adalah kelalaiannya dalam menjaga kesehatan tanaman karet dari berbagai hama dan penyakit yang pastinya siap mengintai. Beberapa diantaranya sangat berbahaya, maka petani perlu memiliki pemahaman yang saksama tentang Pencegahan dan penanganan terhadap Hama dan Penyakit tanaman karet dan bagaimana cara pengendaliannya terutama pada proses pembibitan.


Pengendalian Hama dan penyakit harus dilakukan secara preventif dari sejak dini. Hal ini di karenakan dapat memengaruhi keberhasilan okulasi dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi tanaman yang sudah menghasilkan. Hama dan penyakit yang pelu diwaspadai dan perlu pengendalian  yang tepat maka uraian berikut akan menjelaskan secara singkat beberapa hama dan penyakit yang sering menjadi masalah bagi para petani tanaman karet. Mari simak!

Hama Dan Penyakit Tanaman Karet Dan Pengendaliannya Pada Pembibitan 

A. HAMA

1. Tungau/thrips/mealbugs/verrisiana virginata Pada Pembibitan

     Gejala tanaman karet yang terkena hama tungau atau thrips/mealbugs/verrisiana virginata ini terlihat seperti serangan jamur dengan ciri daun melengkung dan keriting yang menyerang daun muda dan posisi dibawah daun dalam jumlah banyak. Hama ini sering menyerang pada akhir musim kemarau dan awal musim penghujan. Maka, pengendaliannya adalah dengan cara menggunakan insektisida matador dan suprasit dengan dosis 2 cc/liter yang disemprotkan 1 - 2 kali dalam seminggu, sedangkan untuk pencegahannya adalah dengan disemprot dengan interval dua minggu sekali.

2. Rayap dan Nematoda Pada Pembibitan

     Tanaman karet yang terkena serangan hama ini umumnya memiliki gejala yaitu daun menguning dan pucat. Pusat serangan berada pada perakaran. Pengendaliannya adalah menggunakan insektisida yaitu Furadan 3G, dengan cara ditaburi/dibenam disekitar akar leher. Apabila terjadi serangan tanaman, Maka harus dicabut dan diisolasi di sekitar tanaman sampai dua pohon dan ditaburi Furadan.

3. Jangkrik dan Belalang Pada Pembibitan

    Hama ini dapat menyerang tanaman karet pada proses pembibitan dengan gejala yaitu sering terjadinya kerusakan batang setelah penanaman dilapangan. Maka, pengendaliannya adalah dengan cara penyemprotan insektisida yang bersifat kontak yakni matador dengan dosis 2 cc/liter dan interval satu minggu selama satu bulan.

B. PENYAKIT

1. Oidium heveae/mildow/Embun Tepung Pada Pembibitan

     Tanaman karet yang terkena penyakit ini gejalanya berupa bercak putih sampai kecoklatan dan menyebar pada sekitar permukaan daun sehingga menyebabkan gugur daun. Penyakit ini menyerang pada daun muda saat musim hujan dengan intensitas rendah. Pengendalian penyakit ini sendiri dengan cara menggunakan dithane M 45-80 WP dengan konsentrasi 0,2%. Penyemprotan dilaksanakan saat daun dalam keadaan flush (Semi/muda) dan sebagai pencegahan preventif. Rotasi penyemprotan dilakukan dua minggu sekali, sedangkan jika serangan berat rotasinya 1-2 kali seminggu.

2. Colletotrichum gloeosporiodes Pada Pembibitan.

     Gejala dari penyakit ini adalah berupa bercak putih, pada ujung daun berwarna kecoklatan yang menyebabkan daun gugur. Gejala ini menyerang daun muda dalam kondisi hujan dengan intensitas tinggi. Pengendaliannya yaitu dengan menggunakan dithane  M 45 dengan konsentrasi 0,2%. Penyemprotan dilakukan pada saat daun dalam keadaan flush (Semi/Muda) dan sedangkan untuk pencegahan rotasi penyemprotan dilakukan 2 kali seminggu.

3. Penyakit Gugur Daun Oidium Pada Pembibitan dan Kebun Entres.

    Penyakit ini memiliki gejala yang terdapat pada daun muda yaitu bercak bercak putih seperti beludru dan daun-daun muda tampak suram, lemas, dan tepinya agak keriting, lalu perlahan gugur. Pengendaliannya adalah dengan cara penghembusan serbuk belerang cirrus dengan dosis 7 kg/ha, inteval 3-7 hari dengan aplikasi 3-4 kali. Waktu yang baik untuk penghembusan yaitu dilakukan pada pukul 02.00-05.00.

4. Penyakit Gugur daun Collectotrichum Pada Pembibitan dan Kebun Entres.

    Penyakit ini menyebabkan pada daun muda bercak bercak cokelat kehitaman pada bagian tengah,  lalu busuk. Sedangkan pada tepi daun tua menjadi keriput dan permukaan daun bercak bercak kecoklatan. Pengendalian nya adalah dengan cara disemprotkan Fungisida Dithane M 45 Konsentrasi 0,25% (25 gram/1 liter air) dan dosis 400-500 liter/ha.

5. Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) Pada tanaman belum menghasilkan (TBM).

    Gejalanya adalah terdapat pada akar membentuk benang-benang jamur berwarna putih. Pada daun-daun segar berubah layu kering dan akhirnya rontok disertai matinya ranting-ranting. Pohon yang sakit kadang-kadang membentuk bunga dan buah sebelum waktunya. Pengendaliannya adalah dengan cara mengisolasi disekitar pohon dengan memberikan belerang, dan dicampur ke tanaman dengan dosis 20-25 gram/polibag.

Uraian diatas merupakan Informasi seputar Hama dan penyakit yang sering sekali menjadi masalah bagi para petani tanaman karet di indonesia. Maka pentingnya pengendalian hama dan penyakit ini karena hal tersebut menyangkut pada proses selanjutnya dan hasil yang diperoleh kelak. Mengapa ini penting? Negara kita indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak sumber daya alam yang berlimpah seperti halnya tanaman karet dan bahwa pertanian sendiri merupakan sektor penting dalam bidang pembangunan. Maka mari wujudkan pembangunan pertanian di indonesia yang berkualitas yang bebas dari hama dan penyakit. Maju terus Petani indonesia!

Salam Sahabat...

Baca juga artikel terkait :
Teknik-teknik atau cara okulasi pada tanaman karet 
Pengetahuan Morfologi dan klasifikasi tanaman karet 
Teknik dan cara Menyadap tanaman karet yang baik dan benar