Teknik Produksi Tanaman Karet dari persiapan sampai pembibitan lengkap

Negara kita indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sumber daya alam yang berlimpah dari berbagai bidang. Salah satunya adalah dalam bidang pertanian, Kalau anda sangat meminati bidang ini, pastinya anda akan setuju dari apa yang saya katakan tadi. Sebagai informasi bahwa pertanian sendiri merupakan sektor penting dalam bidang pembangunan. Hal ini tentunya perlu didukung oleh teknologi pertanian yang modern dan sumber daya manusia (SDM) Yang handal. Nah, tahukah kalian perkebunan adalah salah satu bidang pertanian sebagai usaha yang menyangkut lapangan pekerjaan untuk menambah devisa negara dan juga memberikan dampak positif pada usaha pelestarian lingkungan dan sumber daya alam (SDA).


Oleh karena itu kita akan bahas secara lengkap tentang salah satu tanaman perkebunan yang cukup terkenal dan memiliki peranan penting dalam sektor industri yaitu Tanaman karet. Mengingat perkembangan tanaman ini memiliki perkembangan yang semakin meningkat maka budidaya tanaman karet perlu untuk kita pelajari lebih mendalam sehingga dapat dikembangkan secara maksimal dimasa yang akan mendatang. Sebelum kita mengulas teknik produksi tanaman karet dari awal persiapan sampai pembibitan, sangat penting untuk kita tahu morfologi dan klasifikasi tanaman karet itu sendiri. Bisa baca dan klik di link ini Morfologi dan klasifikasi tanaman karet .

Teknik Produksi Tanaman Karet dari persiapan sampai pembibitan lengkap.

A. Survei Lahan

     Tahapan awal dalam proses tahapan produksi pastinya adalah survei lahan. Tidak hanya tanaman karet saja melainkan semua jenis tanaman pertanian sangat penting untuk melakukan survei lahan. Mengapa imi penting? Dalam proses survei lahan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa lahan tersebut harus memenuhi syarat dan ketentuan tumbuh tanaman karet mencangkup Iklim yang sesuai, dimana tanaman karet itu sendiri merupakan tanaman daerah tropis. Curah hujan yang optimal antara 2.500-4.000 mm/tahun yang terbagi atas 100-150 hari hujan dan pada ketinggian berkisar 200 m di atas permukaan laut serta dengan suhu antara 25 derajat celcius sampai dengan 35 derajat celcius dan dengan suhu optimal antara 28 derajat celcius. 

Sedangkan untuk kelembapan tanah yang cocok bagi tanaman karet adalah solum sampai dengan 100 m atau lebih, tidak terdapat batu-batuan, airase dan drainase baik yang terdiri dari 35% liat dan 30% pasir, tidak bergambut, dan bila ada tidak lebih tebal dari 20 cm, Kandungan N, P, K cukup, PH Keasaman berkisar 4,5-6,5 dan kemiringan tidak lebih dari 16%, serta permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm.

B. Teknik Pengumpulan Biji

     Dalam hal Pengumpulan biji karet sendiri tidak sembarang menumpulkan yaa sahabat. Ada teknik tersendiri untuk mendapatkan biji karet yang bermutu. Apabila kita sembarang ambil dan tidak melihat kondisi nya, ini akan sangat berpengaruh pada proses teknik produksi selanjutnya yang tidak optimal. Oleh karena itu mari kita perhatikan langkah - langkah sebagai berikut :
  • Kebun karet yang di jadikan sebagai biji sebelumnya harus bebas dari gulma, minimal satu bulan sebelum biji terjatuh.
  • Diadakan Pungutan pendahuluan dua hari sebelum pengambilan biji dan hasilnya dibuang karena di khawatirkan mutunya jelek.
  • Rotasi yang digunakan dalam pengambilan biji adalah dalam jangka waktu satu hari.
  • Setelah biji karet terkumpul, maka segera laksanakan penyeleksian biji dengan tujuan mengetahui keadaan biji tersebut.

C. Seleksi Biji
     
     Dalam hal penyeleksian biji karet sendiri terdiri dari 2 metode yaitu metode Lenting atau pantul dan Metode Perendaman. Sahabat bisa gunakan salah satu nya yang sahabat pikir lebih simple dan selektif.
  1. Metode Lenting/Pantul, Metode ini menggunakan peralatan berupa kotak kayu yang berukuran 40x40x40 cm. Dengan cara Biji karet dijatuhkan kedalam kotak pada ketinggian 70-100 cm. Biji yang melenting keluar melewati dinding kotak adalah biji yang tergolong baik. 
  2. Metode Perendaman, yaitu dengan cara biji karet yang sudah dikumpulkan direndam dalam sebuah bak air selama kurang lebih 24-48 jam. Biji yang tenggelam seluruh bagiannya dan yang tenggelam 2/3 bagiannya adalah biji yang dipilih sedangkan biji yang dalam kondisi terapung dibuang. Mengapa demikian? Karena Biji yang tenggelam ternyata mempunyai daya tumbuh lebih baik daripada yang terapung. 
D. Pengecambahan
  • Bedengan Pengecmbahan, harus sudah disiapkan sebelum pengumpulan biji Sehingga biji yang terkumpul bisa segera untuk diseleksi dan dikecambahkan karena sifat biji karet daya kecambahnya cepat menurun.
  • Pemilihan Lokasi, dekat dengan sumber air hal ini bertujuan untuk memudahkan penyiraman dan dekat dengan lokasi pembibitan lapangan sehingga biaya dan tenaga lebih efesien.
  • Membuat bedengan Perkecambahan, Tanah media perkecambahan dibersihkan dari gulma, batu-batuan, tunggul atau sisa akar. Pada tepi bedengan di beri pembatas dan penguat berupa papan atau bambu. Kemudian, diatas bedengan dihamparkan dengan pasir yang telah diayak setebal 5 cm dan diratakan. Lebar bedengan yaitu berkisar 120 cm dengan maksud memudahkan pekerjaan untuk mendeder benih dan pekerjaan lainnya, sedangkan panjang bedengan menyesuaikan lahan. Arah bedengan yaitu utara-selatan dan diberi naungan/atap dari daun kelapa atau alang-alang. Tinggi tiang sebelah timur adalah 120 cm dan sebelah barat 90 cm. Bagian belakang dan depan ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembapan bedengan. Jarak antara bedengan adalah 1,5 m.
E. Cara Pengecambahan

      Sebagai berikut adalah tata cara pengecambahan biji karet yang perlu diperhatikan :
  • Posisi biji, Biji debenamkan pada bedengan pengecambahan yang telah disiapkan dengan posisi bagian perut menghadap kebawah, dan punggungnya terlihat dipermukaan pasir (1/3 bagian) di mana lubang biji menghadap ke satu arah.
  • Jarak antar biji, adalah kurang lebih 1 cm. Tiap 1 m bedengan memuat kurang lebih 800 biji untuk jenis LCB dan PR, Sedangkan GT 1 mampu sampai dengan kurang lebih 100 biji.
  • Penyiraman, dilakukan 2x sehari yaitu pada pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor. Setelah penyiraman pada pagi hari, penutup dibuka selama kurang lebih 1 jam agar sinar matahari dapat masuk dan terjadi sirkulasi udara.
  • Pemeriksaan perkecambahan, dilakukan setiap hari. Biji yang telah dikecambahkan dengan disertai penyiraman yang cukup, akan berkecambah pada hari ketiga setelah biji di deder, Untuk memperoleh batang bawah yang jagur, biji dikecambahkan selama 14 hari saja, lalu dipindahkan ke pembibitan lapangan.
F. Pembibitan Lapangan

    Pembibitan lapangan merupakan usaha lanjutan untuk memperoleh bahan-bahan yang baik setelah pengecambahan. Adapun syarat pembibitan lapangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

  • Areal pembibitan lapangan dipilih yang datar.
  • Tanaha subur, kadar bahan organik yang tinggi, berhumus, dan sebelumnya bukanlah bekas lahan yang terserang jamur putih.
  • Dekay dengan hasil penanaman sehingga efesien tenaga dan transportasi bibit.
  • Dekat dengan sumber air.
  • Tidak dekat dengan hutan untuk menghindari serangan hewan liar.
  • Tidak terlalu dekat dengan tanaman menghasilkan (TM) Sehingga tidak mudah terserang penyakit daun.
G. Persiapam Pembibitan Lapangan

     Setelah memilih lokasi yang cukup strategis untuk pembibitan maka, sebelumnya lakukan persiapan sebagai berikut :

  • Cangkul tanah sedalam 60 cm dengan menggunakan sistem parit, masing-masing 30 top soil dan 30 sub soil.
  • Buat bedengan dengan ukuran 3,4x100 m (tergantung kondisi lahan).
  • Ajir pembibitan lapangan dengan ukuran 40x40x40 cm. Jarak antar bedengan pembibitan yaitu 60 cm sebagai jalan pekerjaan saat okulasi.

H. Transplanting Biji kecambah

      Biji yang telah berkecambah harus segera dipindahkan ke pembibitan lapangan. Pemondahan ke pembibitan lapangan yang perlu diperhatikan adalah stadia pengecambahan. Stadia pengecambahan adalah sebagai berikut :

  1. Stadia Bintang, Kecambah dengan bagian mikrofil sudah tumbuh akar cabang seperti bintang, namun belum muncul bakal akar tunggang dan calon batang. Stadia ini jarang digunakan, karena tingkat keberhasilannya sangat kecil.
  2. Stadia Pancing, Kecambah dengan akar yang sudah mulai tumbuh dan calon batang yang berbentuk pancing. Umumnya, digunakan pada areal persiapan dengan skala kecil antara 60 - 100 Ha. Stadia ini paling aman digunakan dalam transplanting.
  3. Stadia Jarum, Kecambah dengan perakaran yang sudah tumbuh akar lateral dan calon batang yang sudah tegak sampai pada persiapan pembentukan daun pertama. Stadia ini terlambat apabila digunakan, namun bisa menggunakan bahan sulaman dengan tingkat kehati hatian tinggi karena rawan perakaran dan batang yang mudah patah dan stagnasi.

  I. Penanaman di Lapangan.

      Sebelum melakukan penanaman, Tanah disekitar ajir perlu digemburkan, Kemudian buat lubang disamping ajir dengan ukuran sesuai biji. Lalu, kecambah ditanam dalam keadaan biji tertutup semua dengan tanah, namun calon batang atau plumula dilihatkan.

Uraian diatas merupakan teknik produksi tanaman karet dari awal survei lahan sampai dengan penanaman di lapangan. Untuk proses dan langkah selanjutnya adalah sahabat bisa simak pada article Beberapa tahapan pemeliharaan tanaman karet . Mengapa tahapan ini begitu penting? karena hal ini akan sangat berpengaruh pada produktivitas lateks yang dihasilkan nantinya. Selamat menyimak, Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih sudah mampir di talitashare.com!
Salam sahabat!