Pengertian difteri, penyebab dan cara penanganan secara lengkap

Sekarang ini ada banyak jenis penyakit ya guyss.. Mulai dari yang ringan saja sampai penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Penyakit difteri yang akan kita bahas pada ulasan ini merupakan salah satu penyakit yang lagi ngetrend guys.. Bagaimana tidak? Di pemberitaan ada banyak kasus yang menyangkut penyakit ini.. Kalian tau gak sih apa itu penyakit difteri? Termasuk penyakit berbahaya atau tidak yaa?? Bagaimana cara menghindari nya. Nah untuk itu bagi kalian yang penasaran bisa simak deh uraian di bawah inii yaa..

PENGERTIAN DIFTERI

Difteri merupakan suatu penyakit pernapasan yang berat yang disebabkan oleh toksin atau racun yang dikeluarkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Penyakit ini ditemukan pertama kali pada abad ke-5 oleh Hippocrates dan menjadi epidemic pada abad ke-6. Anti toksin yang bermanfaat untuk menangani penyakit ini ditemukan pertama kali pada abad ke 19.

Nah setelah mengetahui pengertian. Bagaimana dengan penyebab nya?? Pasti ada faktor dong yang menyebabkan penyakit inii timbul.. Yapss langsung saja paragraf selanjutnya...

PENYEBAB DIFTERI

Penyebab difteri merupakan suatu bakteri gram positif tipe basil yang bernama Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini menginvasi jaringan pada permukaan tenggorokan dan menghasilkan toksin yang dapat merusak jaringan dan membentuk suatu pseudomembran khusus sebagai karakteristik dari penyakit ini. Apabila toksin ini menyebar dan masuk ke dalam darah dan kelenjar getah bening, akan menyebabkan infeksi di berbagai organ dan menyebabkan kegagalan organ.

Penyakit ini juga dapat menyerang kulit. Difteri menyerang mukosa pada daerah yang sebelumnya pernah terkena trauma atau penyakit primer pada kulit dan dapat bertahan hingga berbulan-bulan

GEJALA DIFTERI

Penderita difteri akan mengalami gejala 2-5 hari setelah terpapar oleh bakteri ini. Difteri menular melalui individu yang terinfeksi atau yang tidak bergejala melalui air liur saat bersin atau batuk pada penderita atau melalui kontak langsung sekret tenggorokan atau luka yang terbuka. Gejala difteri hampir sama dengan gejala batuk pilek pada umumnya. Hanya saja gejala akan dirasakan lebih berat dari gejala batuk pilek pada umumnya.



Yang paling terlihat jelas adalah Penderita difteri akan merasakan nyeri saat menelan, demam, pegal-pegal, lemah, lesu, letih, sakit kepala, sulit menelan, suara serak, batuk dan sesak, pembesaran kelenjar getah bening dan timbulnya membrane berwarna abu-abu di tenggorokan yang merupakan gejala khas dari difteri. Selain itu, terjadi juga pembengkakan pada tonsil (amandel), uvula, daerah di bawah leher, dan leher bagian depan yang sering menyerupai leher banteng (bullneck appearance).

FAKTOR RESIKO

Penularan difteri berasal dari percikan bersin atau kontak langsung dengan sekret atau luka penderita difteri. Selain penularan, faktor risiko lain yang dapat memudahkan terjadinya difteri adalah:

  • Tidak diimunisasi DPT (difteri, pertussis, tetanus)
  • Kondisi lingkungan tempat tinggal yang padat dan kurang bersih
  • Berada di daerah endemis difteri
  • Menurunnya kekebalan tubuh
  • Pemakaian bersama alat-alat makan dengan penderita difteri

PENANGANAN DIFTERI

Pencegahan penyakit ini adalah dengan menghindari semua faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. Imunisasi DPT merupakan salah satu pencegahan yang dapat kita berikan kepada anak kita, sehingga terhindar dari penyakit ini. Anak-anak yang sudah diimunisasi DPT dapat menyebabkan kekebalan komunitas.

Mengingat penyakit ini gak boleh dianggap sepele maka Perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit Sangat disarankan. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan dua jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan membantu tubuh untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.
Sebagian besar penderita tidak akan menularkan bakteri difteri lagi setelah meminum antibiotik selama dua hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan proses pengobatan antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama dua minggu. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.
Sementara antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter biasanya akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak.

Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.
Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.
Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

Sekian informasi yang bisa dibagikan, pengingat untuk jaga pola hidup sehat yaa, sehat itu murah namun akan jadi mahal apabila kita sakit. Salam..