Pengertian Rohingya dan Alasan mengapa mereka mengungsi


Apa sebenarnya istilah tentang "Rohingya" itu???

Mungkin anda sudah dengar yaa dengan istilah 'Rohingnya". Akhir-akhir ini berita dan sosial media sedang hangat membicarakan rohingya. Sebenarnya apa itu "Rohingya"?? Mengapa mereka harus mengungsi?? Permasalahan apa yang sedang mereka hadapi? Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut akan timbul dibenak kita setelah menonton berita atau membaca di media tercetak seperti, koran dan majalah. Uraian dibawah ini merupakan uraian singkat mengenai istilah "Rohingya".

Kata Rohingya berasal dari Bahasa Bangladesh (Bengali), yaitu dari kata “Rohang” yang adalah sebutan lain untuk “Arakan” (kerajaan Arakan). Istilah ini pertama kali didokumentasikan oleh Dr. Francis Buchanan, yang adalah seorang seorang botanis, geografer, ahli bahasa dan peneliti budaya dan sejarah Bengal. Pada tahun 1795. Dia datang untuk mengunjungi kerajaan Amarapura setelah jatuhnya kerajaan Arakan. Rohingya (orang yang berasal dari Rohang), adalah istilah yang muncul atas latar belakang geografis, bukan suku atau agama. Mereka adalah orang-orang Bengal yang tinggal di wilayah kerajaan Arakan.

Rohingya juga merupakan kaum minoritas Muslim yang menggunakan etnis bahasa Rohingya —bahasa Indo-Eropa yang mirip dengan bahasa Bengali. Mereka tinggal di negara bagian Rakhine Utara yang sebelumnya disebut Arakan, sebuah desa pesisir di Myanmar. Namun, Myanmar tidak mengakui kaum Rohingya sebagai warga negara atau kelompok etnis mereka. Hanya sekitar 40.000 yang diakui oleh pemerintah Myanmar dan diberikan hak kewarganegaraan.

Kaum imigran Rohingya dilaporkan menjadi korban konflik persaudaraan di Myanmar. Myanmar yang tidak mengakui kaum Rohingya sebagai warga negara atau kelompok etnis mereka sehingga mengakibatkan sejumlah warga Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke negara-negara terdekat, salah satunya adalah negara kita yakni Negara Indonesia.

Pemerintah Myanmar ini ternyata tidak menyetujui bahwa kelompok tersebut menggunakan istilah “Rohingya”. Sedangkan Orang-orang Rohingya mengklaim bahwa leluhur mereka telah tinggal di Myanmar sejak ratusan tahun yang lalu. Namun, mereka tidak memiliki dokumentasi yang tepat untuk membuktikan klaim tersebut. Mereka hanya percaya akan leluhur mereka pada zaman dahulu dan tidak memiliki bukti secara resmi.

Alasan lainnya mengapa mereka tidak diterima dijelaskan oleh Seorang Presiden Myanmar Thein Sein bahwa Rohingya sebagai "Bengali" (orang Bangladesh) dan menyiratkan bahwa mereka adalah penduduk asli Bangladesh. Oleh karena itu, dideportasi dari Myanmar dilakukan. Namun, pemerintah Bangladesh sendiri juga tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari mereka.

Rohingya mengalami diskriminasi selama beberapa dekade terakhir, yang mengakibatkan mereka berupaya melarikan diri dari Myanmar. Sebuah laporan New York Times menyatakan bahwa “mereka telah ditolak kewarganegaraan dan diusir dari rumah mereka, tanah mereka disita, dan mereka diserang oleh militer”. Sejak Agustus 2012, pemerintah Bangladesh melarang bantuan kemanusiaan untuk kaum minoritas Rohingya, meninggalkan mereka tak berdaya dan rentan. Keadaan yang dialami oleh rohingya sangat memprihatinkan. Negara tetangga lainnya juga telah menutup mata. Thailand, salah satunya, mengklaim angkatan lautnya memberikan bantuan kepada kapal seperti makanan, air, dan obat-obatan. Namun militer Negeri Gajah Putih terus menolak mereka masuk karena resistensi pemerintah untuk pendatang. Selain itu, tidak ada pula tindakan dari Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN).

Dari pengamatan para kritik, mereka menuding negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) tidak memiliki kepedulian terhadap kaum Rohingya yang terdampar di lautan mencari suaka dan mengalami kesusahan. Selama berbulan-bulan mereka menderita kelaparan selama mengungsi keberbagai daerah. Negara-negara ASEAN dituduh melepas tanggung jawab karena tak ada yang mau menerima rohingya. Pada saat Rohingya telah berpaling ke Malaysia karena penduduk mereka mayoritas adalah Muslim. Namun pemerintah Malaysia telah memerintahkan angkatan laut untuk menolak mereka dari tanah mereka.

Namun, tidak semua tidak peduli, beberapa aksi yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang peduli terhadap rohingya. Salah satu contoh seperti Aksi damai yang juga dikenal dengan Aksi 69 ini diadakan oleh gabungan ormas Islam dan kaum Muslimin se-jabodetabek. Ribuan massa membanjiri Jakarta, mengular dari halaman Kedubes Myanmar sampai ke Bundaran Hotel Indonesia.

Selain orasi, Aksi 69 juga diisi dengan dzikir berjamah yang dipimpin oleh Pengasuh Pesantren Az-Zikra Sentul, Bogor, Jawa Barat, KH Muhammad Arifin Ilham. Air mata tak kuasa dibendung oleh ribuan peserta aksi ketika dai asal Banjarmasin ini menyerahkan urusan kaum Muslimin Rohingya kepada Penguasa Jagat Raya.